Prosa adalah karya sastra yang berbentuk cerita. Karya ini menggunakan bahasa komunikasi sehari-hari sehingga tidak terikat dengan aturan baku kebahasaan. Sedangkan prosa fiksi adalah cerita khayalan pengarang terhadap situasi atau keadaan yang ditemukan. Isi cerita tidak sepenuhnya berdasarkan pada fakta. Hal penting yang dikembangkan dalam karya ini adalah adanya sugesti bagi pembaca sehingga merasa seperti mengikuti jalannya cerita dengan baik. Imajinasi yang dibangun begitu indah sehingga berkesan hidup dan alami.
Contoh Prosa Fiksi antara lain sebagai berikut:
Contoh Prosa Fiksi antara lain sebagai berikut:
- Cerita Pendek (Cerpen)
Cerpen atau cerita pendek merupakan cerita rekaan pendek yang berisi konflik. Konflik tersebut tidak sampai mengakibatkan munculnya konflik baru. - Novel
Novel mempunyai isi yang lebih panjang daripada cerpen. Artinya, konflik yang ditemukan lebih kompleks dan mengakibatkan perubahan nasib tokoh. Penceritaan kisah hidup tokoh lebih tajam dan teliti. Permasalahan-permasalahan kecil tokoh dikemukakan dengan bahasa yang tepat menuju puncak konflik. Akhir dari karya ini adalah perubahan nasib tokoh sebagai jalan keluar penyelesaian konflik - Roman
Roman mengisahkan kehidupan tokoh sejak kecil sampai tua, bahkan sampai meninggal dunia. Segala sisi kehidupan tokoh dari yang baik, menyenangkan, hingga sedih diungkap secara detail. Perubahan nasib tokoh sering mengharukan dan atau menyedihkan karena harus berjuang dalam menyelesaikan masalah pelik dalam hidupnya.
Di dalam prosa fiksi terdapat unsure-unsur pembangun yang disebut unsure instrinsik. Unsur intrinsic terdiri dari tema, alur, penokohan, latar, amanat, sudut pandang, dan gaya bahasa.
TemaTema adalah ide pokok yang mendasari cerita. Tema dapat diambil dari masalah kehidupan sekitar, pengamatan pengarang, pengalaman pribadi, harapan, serta imajinasi pengarang.Alur
- Alur adalah jalan cerita yang digunakan pengarang untuk melancarkan gagasannya. Berdasarkan titik awal cerita yang dikembangkan, pengarang bias menggunakan alur maju, alur mundur, dan alur campuran.
- c. Penokohan
- Penokohan adalah penggambaran watak tokoh yang dilakukan pengarang sesuai dengan cerita. Penggambaran watak tokoh ini bias dilakukan antara lain melalui (1) cirri fisik, (2) kepribadian, (3) keadaan lingkungan sekitar, (4) jalan pikiran yang dikembangkan, (5) cara bertindak, (6) percakapan atau dialog yang dilakukan, (7) reaksi tokoh lain. Tokoh utama disebut tokoh protagonist. Rokoh protagonist biasanya digambarkan dengan sifat yang baik, santun, ramah, bijaksana, dan taat beribadah. Tokoh lawan sering disebut dengan tokoh antagonis, digambarkan sebagai tokoh yang jahat, keji, licik, tidak bijaksana, dan tidak taat beribadah.
- d. Latar
- Latar merupakan penggambaran keadaan untuk memperkuat serta menghidupkan jalan cerita. Latar meliputi (1) latar tempat, (2) latar waktu, (3) latar suasana. Ketiga latar ini tidak dapat berdiri sendiri, tetapi saling berkaitan dan saling mendukung dalam cerita yang dikembangkan.
- e. Amanat
- amanat cerita dalah pesan moral atau kebaikan yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita yang dikarangnya. Amanat bias disajikan secara tersurat melalui kalimat-kalimat pesan yang diungkapkan tokoh. Amanat dapat juga disampaikan secaravtersirat sehingga dapat diketahui pembaca setelah membaca keseluruhan cerita.
- f. Sudut Pandang pengarang
- Sudut pandang pengarang adalah gambaran posisi pengarang dalam cerita. Posisi mpengarang dalam cerita dibagi menjadi dua, yaitu:
- 1) Sudut pandang orang pertama
- dalam posisi ini pengarang terlibat di dalam cerita. Pengarang seperti menjadi pelaku utama dengan menggambarkan kisah secara detail. Akan tetapi, pengarang bias juga menjadi pelaku pembantu. Semua tergantung dari pengarang memposisikan diri dalam cerita.
- 2) Sudut Pandang orang ketiga
- dalam posisi ini, pengarang berada di luar cerita.pengarang bersikap sebagai orang yang tahu-menahu atas tokoh dalam cerita dan kisah hidup yang dialami seperti falsafah hidup, jalan pikiran, dan konsep pengebangan diri tokoh. Pengarang juga bias memposisikan dirinya sebagai pengamat. Dalam posisi ini, pengarang hanya menceritakan keadaan yang dilihat dan tidak mengungkapkan kisah hidup tokoh secara detail.
- g. Gaya Bahasa
- Gaya Bahasa adalah gaya yang digunakan pengarang dalam mengolah bahasa untuk mengungkapkan peristiwa dalam karangannya. Gaya ini meliputi cara pemakaian struktur kalimat, kosakata, dan makna kata yang dipilih. Pengarang dapat menggunakan gaya bahasa lugas maupun gaya simbolik. Setiap pengarang memiliki gaya bahasa tersendiri seperti sudah menjadi identitas dan daya pikat setiap pengarang.
Comments
Post a Comment